Breaking

Showing posts with label Potret. Show all posts
Showing posts with label Potret. Show all posts

Monday, 23 May 2016

13:55

Ini Sosok Budhi Purwanto, Pelopor Produk Herbal Keperawatan

Medianers ~ Menciptakan lowongan kerja atau mencari lowongan kerja? Merupakan dua pertanyaan yang perlu direnungkan oleh Perawat muda baru tamat yang butuh pekerjaan. Salah satu dari dua pilihan tersebut baik. Namun, alangkah lebih baik Perawat masa kini mampu menciptakan lowongan kerja bagi Perawat lain dan masyarakat.

Perawat bisa menciptakan lowongan kerja meskipun saat kuliah tidak ada mata kuliah tentang bahasan berwirausaha. Dan, Perawat juga bisa mencari lowongan kerja dimana saja, karena kesempatan itu selalu ada baik di dalam negri maupun di luar negri. Baik di rumah sakit, klinik, Puskesmas maupun di instansi lainnya.

Medianers berikan apresiasi kepada seorang Perawat pengusaha di bawah ini, ia mampu jadi pelopor, penggagas dan menciptakan lowongan kerja bagi Perawat lainnya, ditengah rumitnya bagi Perawat mencari pekerjaan, ia hadir sebagai sosok inspiratif. Sosok yang medianers maksud adalah:

Budhi Purwanto Kembangkan Produk Herbal dan Ciptakan Lowongan Kerja Bagi Perawat Lainnya

Kata "salut" pantas medianers alamatkan pada sosok lelaki kelahiran 10 Juni 1988 ini, namanya Budhi Purwanto, lulusan sarjana ilmu Keperawatan, ia masih muda, enerjik, multi talenta dan kaya ide. Lelaki asal Wonogiri, Jawa Tengah ini, juga tamatan program Magister Farmasi, Peminatan pengembangan obat dan kosmetik bahan alam di Universitas Ahmad Dahlan, Jogyakarta.

Budhi Purwanto terbilang sukses memadu-padankan antara ilmu Keperawatan dan Ilmu farmasi sehingga ia sukses mengembangkan bisnis produk herbal Keperawatan. Beliau memiliki laboratorium herbal, sebagai tempat meneliti bahan alam untuk dikembangkan jadi obat herbal, terkhusus dikenal therapy komplementer.

Sudah banyak produk herbal yang ia produksi dan kemas untuk dipasarkan. Tentunya terkait dengan herbal Keperawatan. Seperti produk Lemoners misalnya, digunakan untuk baby's spa, yaitu minyak (oil) untuk memijat bayi yang bermasalah dengan saluran nafas atas, seperti batuk dan pilek. Kandungan dari Lemoners ini adalah lemon, wijen dan kayu putih yang dikemas cantik dan menarik. Khusus untuk baby's spa ini terdiri dari berbagai varian dan jenis aroma therapy. Seperti, aroma coklat, lavender dan melon.

Selain produk spa, Budhi Purwanto juga mengembangkan herbal perawatan kulit dan pengobatan peningkat daya daya tahan tubuh, seperti Mangostener misalnya. Ekstrak kulit manggis yang diolah di laboratorium milik sendiri, yakni di bawah naungan CV. Budhi Nersalindo Indonesia. Produk-produk lainnya masih banyak yang bahan bakunya memang terdapat di bumi nusantara. Mungkin anda akan sepakat dengan medianers memberi 2 jempol pada Budhi Purwanto, ia mampu dan kembangkan potensi rempah-rempah indonesia menjadi bernilai.

Berkat usahanya, Budhi Purwanto juga sering diundang sebagai pembicara tentang Therapy Komplementer Keperawatan dan Perawatan Bayi, bahkan tentang Perawatan Luka menggunakan produk herbal. Ia bahkan memberikan materi seminar ilmiah di berbagai kota di Indonesia.

Hingga saat ini, Budhi Purwanto telah memperkerjakan 2 orang apoteker, dan beberapa orang Bidan serta Perawat untuk bekerja di laboratorium maupun di balai pengobatan yang ia kelola. Selain itu, ia membuka peluang kerjasama dengan seluruh Perawat tanah air yang berminat mengembangkan therapy komplementer dan asuhan keperawatan herbal.

Visi perusahaan yang ia kelola adalah "Menjadi perusahaan herbal khas untuk asuhan Keperawatan dan Kebidanan kelas dunia." Dan misinya, "Memproduksi herbal berkualitas dan menjawab kebutuhan praktek mandiri Keperawatan dan kebidanan. Serta mendirikan praktek mandiri keperawatan dengan layanan teknologi bahan alam (herbal) diseluruh Indonesia dengan logo Budhi Nersalindo.(AntonWijaya)

Thursday, 19 May 2016

11:49

Lilian D Wald, Sosok Pelopor Lahirnya "Perawat Kesehatan Masyarakat"

Medianers ~ Lilian D Wald lahir 10 Maret 1867, ia menyelesaikan pendidikan Keperawatan di New York Hospital Training School for Nurses pada tahun 1891. Lilian D Wald perawat pertama yang mencetuskan lahirnya Perawatan Komunitas, yakni melayani kesehatan masyarakat dengan cara langsung mengunjungi masyarakat ke rumah-rumah penduduk miskin yang sulit mendapatkan akses pelayanan kesehatan.

Selain mempelopori lahirnya Perawat Kesehatan Masyarakat, Lilian D Wald juga dikenal sebagai aktivis perlindungan anak dan hak-hak perempuan. Ia mendirikan organisasi the Children’s Bureau pada tahun 1912, tujuannya untuk melindungi anak-anak dari praktek pekerja anak.

Berselang 2 tahun, tepatnya 1914, Lilian D Wald mendirikan organisasi bernama Women's International League for Peace and Freedom (WILPF). Tujuannya untuk menjaga perdamaian dan kebebasan perempuan dari ekploitasi.

Lilian D Wald juga mendokumentasikan setiap kegiatannya dengan menulis buku. Bukunya yang terkenal adalah The House on Henry Street (1911) dan Windows on Henry Street (1934). Dalam buku tersebut ia menuliskan terkait pekerjaan terhadap pelayanan kesehatan masyarakat dan perjuangannya sebagai aktivis anak dan perempuan.

Lilian D Wald dikenang dan dikenal berkat usahanya memperjuangkan hak-hak anak, perempuan dan kesehatan masyarakat, semua aktifitasnya ia tuliskan dalam buku sehingga biografinya juga di didokumentasikan di situs Biografy.com dan wikipedia. Serta latar belakangnya juga dibukukan oleh Clare Cross dengan judul buku "Lillian D. Wald: Progressive Activist (A Feminist Press Sourcebook)." (Editor: AntonWijaya)

Saturday, 9 April 2016

13:25

Mengenal Sosok drg.Pasri, Dari Perawat Hingga Menjadi Dokter Gigi

Medianers ~ Pasri, pria berkaca mata, kelahiran tahun 1973, Aur Kuning, Kota Payakumbuh ini menyelesaikan Pendidikan Sekolah Pengatur Rawat Gigi (SPRG) di Depkes, Bukittinggi pada tahun 1992.

Satu tahun setelah tamat sekolah setingkat SLTA tersebut, ia diterima menjadi PNS oleh Pemerintah propinsi Sumatera Barat, dan ditempatkan di Kota Payakumbuh, tepatnya ia bekerja di Puskesmas Balai Jariang.

Pasri muda, memiliki rasa ingin tau yang tinggi. Saat berdinas di Puskesmas Balai Jariang, ia selalu mengupdate ilmu secara otodidak. Tersebab keinginannya membantu pasien untuk mendapatkan gigi palsu, sementara ia tidak mampu.

Lantas ia menyerah? Ternyata tidak, ia katakan pada Medianers, "saya pergi belajar ke Padang Panjang, belajar sama drg.Rosni betty, mantan guru saya waktu di SPRG, saya ceritakan kendala saya saat bekerja, dan ibu Rosni meminta Evi Poli Yunedi, asistennya sekaligus senior saya waktu di SPRG untuk mengajarkan saya cara membuat gigi palsu," ucapnya.

Dan, Pasri menambahkan,"setelah saya bisa membuat gigi palsu, lalu saya pasangkan pada pasien, ternyata ukurannya tidak pas, dan saya balik lagi ke Padang Panjang, buk Rosni geleng-geleng kepala melihat usaha saya," kenang Pasri menceritakan pada Medianers.

Lima (5) tahun mengabdi di Puskesmas, Pasri sosok low profile ini ingin belajar formal, dengan melanjutkan pendidikan ke Akademi Teknik Gigi di jakarta. Keinginannya direstui oleh Pemerintah Kota Payakumbuh, ia dibantu uang saku oleh Pemko dengan status tugas belajar. Tiga tahun kemudian ia sukses menyelesaikan pendidikan (2001). Dan, kembali ditugaskan di Puskesmas Balai Jariang. "Pasri, Am.Tg" demikianlah gelar yang melekat dibelakang namanya.

Setelah sukses menyelesaikan pendidikan Akademi Teknik Gigi, akhirnya Pasri melepaskan masa lajangnya,(2003) dengan menikahi sosok wanita yang satu profesi, yakni Perawat Gigi juga.

Alasan Pasri Melanjutkan Kuliah Kedokteran Gigi

Suatu ketika Pasri pernah dihadapkan persoalan dilematis, semasa menjalankan tugas di Puskesmas, ia pernah dijemput keluarga pasien tengah malam dan dibawa kerumah, untuk mengobati pasien perdarahan pasca cabut gigi. Pasien tersebut telah berobat ke Rumah Sakit dan ke Puskesmas, namun perdarahannya tidak berhenti.

Pasri menyadari tindakan pertolongan yang akan ia berikan bukanlah kewenangannya, tapi ia tidak kuasa menolak, karena keluarga pasien yang membawanya setengah memaksa dan keluarga tidak mau membawa pasien untuk berobat lagi ke Rumah Sakit. Kepercayaan pasien dan keluarga tertumpu padanya.

Dengan berat hati, Pasri masa itu melakukan tindakan di luar kewenangannya, yaitu melakukan kauterisasi, membakar ujung-ujung pembuluh darah perifer menggunakan besi yang dipanaskan dan ditempelkan pada lokasi perdarahan. Logikanya, ujung-ujung pembuluh darah akan menciut jika dipanasi dan perdarahan akan terhenti.

Ia mengatakan pada Medianers,"saya benar-benar pasrah saat itu, apapun yang terjadi. Sebab, saat masuk rumah pasien, orang-orang sudah berkerumun, serta membaca ayat suci Al- Quran. Saya lihat pasien pucat, Anemis berat, pertanda banyak kehilangan darah. Alhamdulillah, perdarahan terhenti dan pasien selamat berkat pertolongan Allah, SWT. Namun, jika membayangkannya saya sangat cemas, karena melakukan tindakan diluar kewenangan klinis,"ungkapnya.

Pasri akhirnya menguatkan diri untuk melanjutkan pendidikan kedokteran gigi. Meskipun ia telah berpengalaman melakukan tindakan dilapangan, itu tidak cukup dalam menolong pasien. Ibarat bawa mobil, meskipun terampil, jika tidak memiliki SIM, tetap akan ditilang oleh polisi lalu lintas, disebut melanggar hukum jika tak mampu menunjukan SIM saat terjaring razia di Jalan Raya.

Pada tahun 2006, berkat dukungan istri dan keluarga tercinta serta Pemko Payakumbuh, ia diberi izin melanjutkan kuliah ke Fakultas Kedokteran Gigi (FKG). Untuk dapat izin melanjutkan kuliah kedokteran gigi itu tidak mudah, namun dr.Merry Yuliesday.MARS selaku kepala dinas kesehatan saat itu memudahkan niatnya melanjutkan harapan tulusnya.

Memang tidak mudah, ia berniat meninggalkan profesinya sebagai Perawat gigi, dan ingin membuka lembaran baru, memimpikan menjadi dokter gigi yang lebih luas kewenangan kliniknya.

Setelah menghubungi beberapa Universitas negri, ternyata ia telah lewat usia untuk melanjutkan pendidikan kedokteran gigi, seperti USU misalnya, menolak untuk menerima sebagai mahasiswa baru.

Ia menyadari yang direkrut oleh Fakultas Kedokteran gigi adalah tamatan SLTA, dan ia pun telah menyiapkan ijazah SLTA, diam-diam ternyata Pasri pernah sekolah di SLTA. UNAND pada tahun 2006, belum membuka jurusan Kedokteran gigi. Beberapa universitas swasta yang ia hubungi ternyata mau menerima Pasri, meskipun lewat umur dengan ijazah SPRG.

Akhirnya pilihan jatuh pada FKG Universitas Baiturahmah, Padang. Di usia 33 tahun ia mulai jadi mahasiswa baru, bergabung dengan anak muda segar dan enerjik. "Saya berteman dengan anak muda. Alhamdulillah saya menyelesaikan pendidikan 10 tahun " Ucap Pasri sambil ketawa, yang juga terlihat awet pengaruh lingkungan.

"Saya menyelesaikan pendidikan 10 tahun, karena kuliah sambil bekerja, sebab saya kuliah tidak dibantu pemerintah, meski tetap menerima gaji pokok sebagai golongan 3. Dengan gaji golongan 3 kebutuhan sehari-hari dan biaya kuliah di swasta tidak cukup. Untuk uang masuk saja saya cicil berkali-kali, padahal diperbolehkan hanya 2 kali oleh pihak kampus. Tapi, saya mambana ke ketua yayasan," tuturnya.

"Dari pada enggak, alhamdulillah, uang wisuda ada dibantu oleh Pemko Payakumbuh sebanyak 3 juta rupiah," tukuknya.

"Kejarlah cita-citamu, maka dukungan akan berdatangan dari lingkunganmu, sebagaimana besi mengejar magnet."

Dokter Gigi Pasri, seorang mantan Perawat Gigi ini memiliki prinsip, " Kejarlah cita-citamu, maka dukungan akan berdatangan dari lingkunganmu, sebagaimana besi mengejar magnet." Pesannya pada Medianers.

Sejak Maret 2016, drg.Pasri ditugaskan kembali di Kota Payakumbuh, tepatnya di Poli Gigi RSUD dr Adnaan WD. Pria yang memiliki 3 putri ini, sarat akan pengalaman, ia memahami kerja Perawat Gigi, menguasai teknik gigi, dan sekarang sukses menjadi dokter gigi.

Penulis jadi teringat kalimat sakti yang dituliskan oleh Ahmad Fuadi dalam novel Negri 5 Menara, yaitu " Man Jadda Wa Jadda." Artinya, "barang siapa yang bersungguh-sungguh, akan mendapatkan apa yang diinginkannya. " Sesuai dengan pengalaman Ahmad Fuadi yang dapat tawaran dari 10 universitas terkenal diberbagai belahan dunia. Padahal ijazah tempat ia menimba pengalaman sebelumnya tidak diakui oleh universitas dalam negri.

Hari ini, drg.Pasri telah memberi sinyal pada pembaca, selayaknya novel negri 5 menara, pesan moralnya mencintai pendidikan demi memuaskan rasa ingin tau, tidak ada yang tidak mungkin, jika bersungguh-sungguh. Insha Allah dukungan akan mengalir darimana saja. Akhirnya magnet itu menjadi berharga, sebagaimana yang telah dibuktikan drg.Pasri.(AntonWijaya)

Popular Posts