Breaking

Showing posts with label Rumah-Sakit. Show all posts
Showing posts with label Rumah-Sakit. Show all posts

Wednesday, 20 April 2016

10:34

Bagaimana sebaiknya pengelolaan RSUD ? Pasca Lahirnya UU Pemda No 23 Tahun 2014

Medianers ~ Pada tanggal 12 April 2016 moneter.co.id melansir, bahwa segenap pengurus Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSADA) mengadu kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla terkait perubahan struktur organisasi RSUD sebagai dampak lahirnya UU Pemda no 23 tahun 2014.

Pengurus ARSADA berpendapat, jika UU tersebut diberlakukan akan terjadi penurunan kinerja Rumah Sakit Daerah akibat dari pengurangan struktur RSUD.

Lahirnya UU Pemda no 23 tahun 2014 merubah secara drastis status organisasi RSUD yang biasanya sebagai Lembaga Teknis Daerah (LTD) menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT).

Biasanya, direktur utama RSUD bertanggung jawab langsung kepada kepala daerah, sekarang dengan lahirnya UU pemda no 23 tahun 2014 maka direktur utama bertanggung jawab kepada kepala dinas kesehatan.

Ya. RSUD akan menjadi Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan. Secara struktur organisai, RSUD akan menjadi setingkat Puskesmas, tidak ada lagi yang namanya direktur utama, direktur keuangan, dan direktur pelayanan, apalagi Kabag dan Kabid, yang ada hanya Kepala Rumah Sakit. Nyaris SDM struktural yang ada di jadikan fungsional, dan jabatan eselon di pangkas.

Rumah sakit telah menikmati status sebagai Badan Layanan Umum (BLU), yang mana manajemen Rumah sakit dipercaya secara mandiri mengelola keuangan untuk mencukupi kebutuhan berdasarkan perencanaan dan penganggaran.

Dengan lahirnya Undang-Undang Pemda Nomor 23 Tahun 2014 otomatis kemandirian RSUD tidak lagi seperti sebelumnya, perencanaan dan penganggaran melalui dinas kesehatan.

Bagaimana sebaiknya pengelolaan RSUD ?

Menurut Suprijanto Rijadi, dosen Fakultas Kesehatan Masyarat UI, alternatif pengelolaan RSUD sebaiknya menjadi Dinas RSUD dibawah Gubernur atau Bupati/Walikota, tetapi status ini akan bertentangan dengan bunyi UU Pemda Nomor 23 Tahun 2014 pasal 217 yang menyatakan bahwa Dinas dibentuk untuk melaksanakan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah.

Alternatif lainnya ialah menjadikan RSUD sebagai BLUD Otonom dibawah Pemda Provinsi atau Pemda Kabupaten/Kota, namun karena status ini tidak termasuk dalam nomenklatur Perangkat Daerah dalam UU Pemda maka jabatan Direktur RSUD tidak mempunyai eselonering lagi, dan murni sebagai pengelola BLUD RSUD, dengan kata lain menjadi Manajer Profesional.

Artinya, pendapat dari Suprijanto Rijadi adalah alternatif pengelolaan Rumah Sakit Daerah jika diperkenankan, maka alternatif pertama yaitu RSUD dijadikan dinas sendiri bernama Dinas RSUD, dan alternatif kedua sebagai BLUD Otonom. Namun, mungkinkankah itu bisa dilaksanakan?Sepertinya, mustahil jika Undang-Undang tidak mengatur akan hal itu.

Akan tetapi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tidak mengatur secara detail bagaimana komposisi struktur dan pengelolaan RSUD, mungkin ada kesempatan bagi ARSADA sambil menunggu turunan Undang-undang tersebut agar bisa dijadikan BLUD otonom atau RSUD dikembalikan saja ke pusat menjadi UPT-nya Kemenkes.(AW)

Friday, 8 April 2016

15:56

Merry Yuliesday Monitor Ke Ruang Rawatan Pasca Baksos

Medianers ~ Jumat pagi (8/4), direktur utama RSUD dr Adnaan WD, dr.Merry Yuliesday, MARS ditemani Desmawati,SKp selaku Kabid Keperawatan dan Ns. Novera Akmal,S.Kep sebagai ketua Komite Keperawatan mendatangi Ruangan rawatan.

Tujuan direktur utama yang terkenal disiplin ini untuk memastikan pelayanan diruangan rawatan berjalan baik dan lancar. Hal ini, merupakan kegiatan rutin yang dilakukan dr.Merry Yuliesday sehabis apel pagi.

Setibanya, diruang rawat teratai (Bangsal Bedah), "buk Merry" yang dipanggil oleh segenap anak buahnya itu, langsung memantau kenyamanan pasien, serta menyalami dan menanyakan keluhan Tn.Z, peserta bakti sosial kesehatan yang digelar kamis kemarin.

Ns.Erni Djaya, S.Kep kepala ruangan Teratai pun menjelaskan kondisi pasien yang sedang dirawat saat ini, serta memaparkan kebutuhan ruangan kedepannya kepada buk Merry.

Pantauan Medianers, bangsal Teratai sudah banyak berubah, setiap kamar diberi pendingin ruangan (AC), tidak ada diskriminasi antara kelas 3, dua dan satu. Masing-masing ruangan diberi AC, agar pasien merasa nyaman selama tidur disini.

Buk merry mengatakan, "kenyamanan pasien adalah hal prioritas, kebersihan, dan udara yang sejuk suatu keharusan didapatkan pasien di setiap ruangan Rumah Sakit ini." Ungkapnya sambil memperhatikan setiap sisi bangsal.

Bangsal Teratai merupakan bangsal percontohan bagi ruang rawatan lain. Selanjutnya bangsal-bangsal lain yang ada di RSUD dr Adnaan WD akan diberi fasilitas pendingin ruangan, agar suhu terjaga dan pasien merasa nyaman. Namun, bertahap dilakukan, disesuaikan dengan perencanaan dan keuangan Rumah Sakit.

Tersirat, keinginan direktur utama yang suka blusukan ke tiap bangsal ini adalah seluruh petugas wajib menjaga kebersihan kamar dan bagsal. Di teratai seluruh kamar, dekat pintu telah disediakan cairan cuci tangan steril yang ditempel di dinding. Demikian juga tong sampah, tertata rapi di setiap pintu masuk kamar.

Setiap ruangan yang dikunjungi pada lawatan jumat pagi ini, ruangan Mawar misalnya, direktur utama yang visioner ini menekankan kepada petugas, agar "Berbuat baiklah, sebab berbuat baik itu, tidak ada yang sia-sia." Ucapnya sungguh-sungguh.(AntonWijaya)

Thursday, 7 April 2016

21:42

Wakil Walikota Kunjungi Kamar Operasi Saksikan Pembedahan Pasien Bibir Sumbing

Medianers ~ Pantauan di lapangan, terlihat Ny. Henny Riza Falepi (istri Walikota Riza Falepi) mendatangi pasien penderita bibir sumbing dan katarak yang sedang menjalani pembedahan di Instalasi Bedah Sentral RSUD dr Adnaan WD.

Ny. Henny Riza Falepi didampingi oleh dr.Elista Yosepha, MARS selaku direktur pelayanan medis dan penunjang sedang bercakap-cakap dengan dr. Deni ahli bedah plastik yang didatangkan oleh Pertamina Bina Medika selaku donatur tunggal pelayanan gratis Bakti Sosial Kesehatan (Baksos).Sepertinya, mereka membicarakan terkait tindakan operasi bibir sumbing.

Di Kamar Operasi, rombongan yang dipimpin oleh Suwandel Muchtar menyaksikan langsung proses pembedahan bibir sumbing dan operasi katarak. Keluarga pasien yang sedang menunggu di ruang pemulihan juga dijambangi serta disalami.

Sekilas Tentang Operasi Massal, Baksos Pertamina Bina Medika Kerjasama Pemko Payakumbuh

Operasi massal yang diselenggarakan di RSUD dr Adnaan WD merupakan kerjasama antara Pemko Payakumbuh dengan PT.Pertamina dalam rangka bakti sosial kesehatan. Rencana dari penyelenggaran ini, pihak Pertamina Bina Medika mengalokasikan sebanyak 200 pasien.

Kurang lebih 2 bulan dibuka pendaftaran, jumlah peserta tidak mencukupi kuota, dengan rincian penderita bibir sumbing yang terjaring 13 orang, dan penderita katarak 27 orang, sedangkan penderita hernia sebanyak 18 orang. Kegiatan baksos ini telah diinformasikan kepada seluruh Puskesmas yang ada di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota, serta diinformasikan juga melalui media cetak dan elektronik. Namun, peserta yang terjaring hanya sebanyak 58 orang.

Artinya, status kesehatan warga di Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota berada pada taraf cukup baik, mungkin karena faktor pilihan penyelenggaraan kesehatan di daerah paling ujung Sumatera Barat ini sangat baik dan status ekonomi masyarakatnya cukup bagus.

Satu hari sebelum hari 'H' peresmian dan pembukaan oleh Wali Kota yang diwakilkan kepada wakil walikota pada hari Kamis (7/4), operasi telah dilaksanakan mengingat jadwal tim bedah yang padat. Pada tanggal (6/7), sebagaimana liputan medianers dengan judul "Pemko Payakumbuh Kerjasama Pertamina Gelar Operasi Katarak, Bibir Sumbing dan Hernia" pasien mengaku puas dan mengucapkan terima kasih pada Pertamina dan Pemko Payakumbuh yang telah menyelenggarakan kegiatan baksos kesehatan ini.

Pada tanggal 6/4/2016 tim bedah sukses melaksanakan operasi bibir sumbing sebanyak 8 orang pasien, dan operasi katarak sebanyak 11 pasien. Kemudian hari ini,(7/4) operasi bibir sumbing dan langit-langit sumbing dilanjutkan, tim bedah sukses menolong sebanyak 3 orang pasien. Dan, operasi katarak sebanyak 10 pasien, serta 3 orang penderita hernia dibedah oleh dr.Syafrudin,Sp.B bersama tim.

Khusus operasi hernia, masih lanjut pada hari esok, sabtu (8/4) hingga seluruh penderita hernia yang terjaring tertolong semuanya total 18 orang.

Dalam pelaksanaan operasi bibir sumbing dan langit sumbing batal 2 orang dilakukan tindakan operasi, terkait komplikasi medis, beresiko (mengancam nyawa) jika operasi tetap dilanjutkan.( Anton Wijaya)

Monday, 4 April 2016

17:41

RSUD dr Adnaan WD Sediakan Cairan Cuci Tangan Steril Dalam Rangka Pengendalian Infeksi Nasokomial

Medianers ~ Setiap apel pagi di RSUD dr Adnaan WD, pihak manajemen selalu meminta masing-masing unit bergiliran yang diwakili 3 orang staf/ petugas untuk mendemonstrasikan 7 tahap cuci tangan sesuai standar badan kesehatan dunia (WHO).

Kebijakan tersebut dilaksanakan bertujuan membiasakan petugas kesehatan mencuci tangan dengan benar, sebagaimana kampanye yang digalakan badan kesehatan dunia, " save lives, clean your hands." Maknanya setiap orang wajib menjaga kebersihan tangannya untuk mencegah penyebaran penyakit.

Tangan, sebagai alat anggota gerak merupakan sering bersentuhan dengan benda apapun. Tahukah anda berapa jumlah bakteri yang ada di tangan? Menurut WHO, pada orang normal terdapat 39-460 ribu bakteri yang ada ditangan anda, dengan berbagai macam jenis bakteri yang bisa mendatangkan penyakit jika kontak dan tertelan melalui makanan.

Prosedur Cuci Tangan di Rumah Sakit

Menyadari pentingnya pengendalian infeksi nasokomial, yaitu infeksi sekunder yang didapat di rumah sakit, karena kontak dengan orang lain, baik dengan petugas maupun dengan keluarga, sesama pasien. Lalu bagaimana mencegahnya?

Setiap di dinding depan pintu masuk ruangan/ bangsal di RSUD dr Adnaan WD, wajib menyediakan cairan kimia pemberantas bakteri, cairan ditempel. Tujuannya mempermudah seluruh pengunjung dan petugas Rumah Sakit mencuci tangannya dengan cairan kimia tersebut.

Kenapa diletakan di pintu masuk? Agar, baik petugas, maupun pengunjung mencuci tangan sebelum masuk dan setelah keluar ruangan atau sebelum dan sesudah kontak dengan pasien. Jangan sampai membawa bakteri dari luar yang bisa menginfeksi orang lain, atau sebaliknya membawa bakteri dari dalam ruangan dan menginfeksi orang luar jika bersentuhan.

Prosedur demikian, telah diterapkan di RSUD dr Adnaan WD. Jika anda berkunjung ke Rumah Sakit milik daerah Kota Payakumbuh ini, jangan lupa mencuci tangan dengan cairan yang terpajang di dinding pintu masuk, bentuk kemasannya seperti gambar di atas. Gunakan cuci tangan tersebut saat masuk dan keluar ruangan, demi keselamatan anda dan orang lain.(AntonWijaya)

Thursday, 28 January 2016

03:55

Perawat RSUD dr Adnaan WD : Tidak Benar Kami Judes Terhadap Pasien Bunga Korban Luka Bakar

Medianers ~ Postingan Andy Eu-esco Cnt Tani dengan alamat url https://m.facebook.com/andyct79 di  salah satu grup Facebook pada tanggal 23 Januari 2016 pukul 00.55 Wib telah menyorot pelayanan RSUD dr Adnaan WD, terutama menuding Perawat Bangsal Teratai judes. Kemudian dalam 'status'nya tanpa verifikasi dan konfirmasi juga menduga Pemerintah Kota Payakumbuh telah mengabaikan Bunga Lestari, usia 8 tahun, korban luka bakar. Begini isi postingan Andy Eu-esco Cnt Tani:
Kawan2 fb ambo almuni smea, ,kalau ada yg meras tersentuh hatinya, kasihan dan rasa iba lihat gadis cilik ini mohon bantuan nya.. gadis cilik ini dr keluarga miskin, dia baru saja dapat musibah, luka bakar di bagian paha dan pungung, baru 3 hari kalau tidak salah, sudah di suruh plng, karna berobat cuma pakai jamkesko, padahal belum terlalu sembuh, kebetulan pas di rawat di RS teman wak jg di rawat satu ruangan sm gadis cilik ini,skrg di suruh rawat jaln, luka bakar nya terjd karna sehabis hidupkan lampu togok (lampu cimporong bahaso minang nyo.. ) yg dr minyak tanah, pas mau mamasak nasi di dapur rok nya tasemba lampu dan terbakar .. ibu nya sehari2 cuma jualan Balut ke pasar, pqi pagi plng senjo ,kdng lah malam, itupun balut urg nan di jua nyo kapasa... sehari2 paling dapet piti plng bnyk 20rb sampai 30rb, itupun untuk makan 5 orng anak..lai tabayang ndak hiduik di pyk piti cuma sagitu sahari2 Nyo seklrga udah di tingga pai dek apak nyo, apak nyo gilo babini tiok santa, anak lah limo, (dasar apak anjiang, buek anak pandai nyo..)ba dan ndak lo ado ma agiah balanjo kini lai.. pas waktu di rawat kt kato kawan ambo, cuma di lihat satu kali, itupun ngk ada di agiah nyo piti buat biaya perawatan anak nya,. sejak kejadiaan, kasihan ibu nya, susah mau pergi kepasar karna sehari2 biasa nya dia yg masak dan bantu pekerjaan ibu nya di rumah, sprti memasak dan pkrjaan lainnya.. apalg waktu di rawat di rumah sakit , kt kawan wak,, yg sama di rawat, perawat nya judes , sampai2 tu anak nagis2 karna kskitan, Waktu buka slang infus main cabut aja, sampai2 kawan ambo marah sm perawat nya, ( kawan ambo itu yg foto nya yg lg kasih uang dlm amplop), rumah tempat tinggal cuma ukuran 5 x 4, kamar tidur , dinding nya pun dah bolong2 kayak nya, terbayang ngk kalau malam, dan sebagian diding rumah nya jg cuma di tutup pake tenda plastik, dan tempat masak,belajar dlm satu ruagan, terbayang ngk gimana mau belajar, itu tempat tidur jg di kasih bantuan, dan kayak nya belum ada dpt bantuan dr lurah, klu ngk salah cuma dpt bantuan kompor gas dr lurah nya, nama gadis cilik nya bunga, umur 9th kelas 3 sd, di kelas selalu rengking 1, anak tertua dr 5 bersaudara, bertempat tinggal di napar di belakang toko sumber bngunan...sy share di fb mana tau ada kawan2 yg merasa tersentuh hati nya tuk membantu, bisa hubungi saya, atau lngsung di antar ketempat tinggal nya, almt di kelurahan napar kota payakumbuh... trims..
Tudingan di atas, sebagaimana tulisan yang di blok warna hitam, Medianers verifikasi langsung ke Perawat Bangsal Teratai, (28/1/2016) pukul 01.00 Wib, memang sedikit telat karena Medianers baru saja mendapatkan informasi ini. 
Pasien-luka-bakar
Sumber: Buku laporan harian Perawat Teratai.
Hasil penelusuran Medianers, bahwa pasien Bunga Lestari masuk RSUD dr Adnaan WD pada tanggal 31/12/2015 dan dikirim dari IGD ke Bangsal Teratai pada pukul 17.00 wib. Di bangsal Teratai Bunga Lestari mendapat resep dari dokter bedah pemberian cairan infus, sebagai pengganti cairan tubuh yang hilang. Bunga mengalami luka bakar grade 2, yakni luka bakar tipis pada area pantat hingga paha belakang kurang lebih 60 persen dan pada punggung kiri sekitar 20 persen. Selain mendapat terapi cairan, bunga juga dapat obat penghilang rasa nyeri.

Selanjutnya kata Wildawati Perawat dinas malam, bahwa " dokter Ridwan Muchtar selaku dokter bedah memberi order kepada Perawat untuk dilakukan perawatan luka 1 kali sehari serta memberi obat perangsang penumbuh jaringan baru. " Tuturnya.

Sambil membolak-balik buku laporan, Wildawati kaget saat medianers sampaikan akan tudingan netizen bahwa Perawat telah berlaku judes pada Bunga dan keluarganya selama di rawat di bangsal teratai, dan ia pun membantah, "Tidak benar kami telah berbuat kasar pada Bunga, dan tidak benar pula Bunga di rawat 4 hari. Silahkan lihat ini, (Sambil menunjuk buku laporan, tertera bunga boleh pulang tanggal 14). Artinya, Bunga dirawat selama 15 hari." Bantahnya.
Sumber: Buku laporan harian Perawat Teratai
Apakah benar bunga menangis-nangis kesakitan dan selang infusnya main cabut saja, sehingga orang di sebelahnya bukan keluarga Bunga marah-marah sama Perawat karena tidak tahan melihat perlakuan Perawat? Wildawati pun menelusuri kapan Bunga tidak lagi di pasang infus. Setelah bolak-balik buku laporan, pada tanggal 13/1/2016 tertera di buku laporan, bahwa Bunga dapat therapy oral, artinya tidak lagi pasang infus. "Untuk hal ini, silahkan konfirmasi pada Perawat yang dinas pada tanggal 13 tersebut." Ungkap Wil.

Dan Wildawati menambahkan, " Tidak benar Perawat main cabut saja tanpa komunikasi dan pemberitahuan. Bunga mengalami trauma pasca luka bakar, alamiah anak-anak menangis melihat petugas baju putih. Was-was akan dilakukan tindakan. Pastilah saat merawat luka, bunga akan merasa nyeri, demikian juga saat membuka jarum infus yang tertancap di pembuluh darahnya. Jelas wil.

Medianers pun menghubungi via telpon Kepala Ruangan (Karu) bangsal Teratai untuk mendapat jawaban terkait apakah benar Perawat dimarahi oleh salah seorang pasien/keluarga. Karu pasti tau akan hal ini, sebab ia selalu dinas pagi, dan biasanya untuk therapy infus lanjut atau tidak di pastikan pagi atau siang setelah dokter visite.

Ns.Erni Djaya, S.Kep selaku Karu membantah bahwa itu tidak benar," Selama Bunga dirawat di bangsal Teratai tidak ada masalah, baik antara Bunga dengan Perawat, maupun keluarga Bunga dengan Perawat dan petugas lainnya. Saat mencabut infus tidak ada masalah, dan saya pun sudah lapor sama buk Merry (direktur) akan hal itu. Ungkapnya.

Terkait pembiayaan selama dirawat di Rumah Sakit, Bunga tidak membayar obat-obatan dan biaya perawatan, kecuali resep diluar tanggungan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) karena Bunga pemegang kartu BPJS atau Jamkesmas lama. Jadi tidak ada alasan RSUD dr Adnaan WD menolak Bunga dirawat karena terkendala biaya, sebab negara sudah menjaminnya.

Walikota Bantah Bunga Lestari Telah Di Abaikan Pemerintah Kota Payakumbuh

Terpisah, Riza Falepi selaku Walikota merespon dan membantah tudingan bahwa pemerintah Kota Payakumbuh menelantarkan warga yang terkena musibah. Begini isi bantahannya melalui akun facebooknya:
Terkait dengan pemberitaan yg memuat musibah luka bakar yg dialami anak kita Bunga. Maka kami selaku Walikota Payakumbuh menyampaikan duka dan kesedihan yg mendalam. Tetapi ada beberapa hal yg perlu kami luruskan terkait dg pemberitaan di sosmed, bahwa tidak benar Bunga di rawat hanya 4 hari di rumah sakit Umum Adnan WD setelah itu di suruh pulang. Yang benar adalah Anak kita Bunga dirawat selama 14 hari dan berdasarkan analisa dokter yg menangani Bunga yg bersangkutan sdh bisa pulang dan selanjutnya bisa dilakukan rawat jalan dan selama di rumah sakit sdh di tangani dg baik sesuai prosedur yg ada. Dan kasihan anak kita Bunga jadi korban pemberitaan yg dipolitisir sehingga jauh dari fakta yang sebenarnya.. Alhamdulillah kl tdk ada aral melintang rumahnya sdh dlm rencana kami/pemko untuk di perbaiki (bedah rumah). Kami juga kesana memberi bantuan beasiswa untk pendidikan bunga kedepan.. Kami juga sdh menyiapkan sistim pengamanan sisial yg cukup baik berupa bantuan berupa dana, dll sehingga kl ada yg tdk mampu kita selesaikn dg baik.. Mohon kpd masyarakat untk memberikan pemberitaan yg benar sehingga kita bisa mencarikan solusi yg tepat..
Blusukan-walikota-payakumbuh-kerumah-korban-luka-bakar
Kunjungan Walikota Riza Falepi Ke Rumah Bunga
Korban Luka Bakar
Perawat Tuntut Andy Eu-esco Cnt Tani Minta Maaf Secara Terbuka

Kepedulian Andy dalam menyuarakan keadilan patut diacungi jempol, namun sangat disayangkan keberaniannya tidak di iringi kebijaksanaannya dalam melihat permasalahan ini bahwa perlu verifikasi dan konfirmasi.

Berkat postingan Andy, Bunga jadi perhatian publik, bantuan moral dan materil berdatangan ke rumah korban luka bakar tersebut. Namun, efek dari tulisan Andy tanpa konfirmasi, telah melukai perasaan Perawat yang juga ikut merawat dan peduli kepada Bunga sebagaimana Andy peduli.

Melalui Medianers, Perawat RSUD dr Adnaan WD yang telah merawat Bunga berpesan dan meminta keberanian Andy untuk membuat pernyataan atau klarifikasi di media sosial, bahwa Perawat yang anda tuding "Judes" pada Bunga Lestari dan keluarganya tidaklah benar dan sangat keliru.(AntonWijaya)

Monday, 21 December 2015

12:02

Sembilan dari 10 Rumah Sakit di Inggris Kekurangan Perawat

Sembilan dari sepuluh rumah sakit gagal memenuhi tenaga perawat untuk di tempatkan di bangsal menjaga dan merawat pasien. Dailymail mengabarkan (21/12/2015), bahwa "Kasus terburuk, salah satu rumah sakit menugaskan seorang Perawat di bangsal perawatan untuk menunggui hingga 22 pasien sakit parah."
Rumah-sakit-inggris
Ilustrasi lorong bangsal Rumah Sakit / Photo: alana.io
Salah seorang Staf Perawat di salah satu rumah sakit yang tidak disebutkan namanya (anonim) mengatakan, " Perawat bekerja terlalu sibuk untuk melakukan dressing (perawatan luka) dan membantu memenuhi kebutuhan dasar pasien." Ia menambahkan, "Aku merasa bersalah karena beberapa pasien butuh perhatian dan perlu berbagi perasaan, sementara aku tidak mampu melakukannya sendirian. "

Analisis dari 232 rumah sakit di Inggris menunjukkan bahwa 90 persen Rumah Sakit telah gagal memenuhi tenaga Perawat dalam negri. Ini adalah angka terburuk sejak beberapa tahun terakhir.

Katherine Murphy, perwakilan dari sebuah Asosiasi Pasien, mengatakan bahwa, " angka staf Perawat yang sangat mengkhawatirkan."

Para ahli berpendapat, setidaknya harus ada satu orang perawat untuk merawat setiap delapan pasien di bangsal, dan satu Perawat untuk setiap empat pasien jika perawatan di ruang khusus.

Kekurangan tenaga Perawat ini salah satu pemicunya adalah di tariknya beasiswa atau bantuan pemerintah dalam mencetak tenaga Perawat dalam negri. Demikian juga biaya pelatihan untuk Perawat tidak lagi dibantu sehingga profesi Perawat bukanlah pilihan menarik bagi warga Inggris.

Selain itu, pendidikan untuk jadi Perawat cukup lama, sementara mahasiswa calon Perawat membutuhkan biaya untuk memenuhi kebutuhan. Kemudian angka kunjungan Rumah sakit terus meningkat, sementara Perawat yang ada mulai pensiun dan penambahan tenaga Perawat tidak signifikan.

Daily Mail juga menyatakan, bahwa "Banyak rumah sakit di Inggris harus mencari tenaga Perawat dari luar negeri."

Menteri Kesehatan Inggris sudah berupaya mengatasi krisis kekurangan Perawat ini dengan rencana untuk merekrut 1.000 tenaga Perawat. Dalam waktu 2 tahun ke depan, mereka akan berusaha melakukan perekrutan Perawat, dan memberikan training dengan gaji awal £ 19.000.

Seorang juru bicara Departemen Kesehatan mengatakan: 'Staffing adalah prioritas, kami telah menempatkan lebih dari 7.600 perawat tambahan di bangsal ,kami sejak Mei 2010 telah merekrut 50.000 perawat, saat ini dalam pelatihan. "

Asosiasi Rumah Sakit berharap kepada Pemerintah untuk menyediakan tenaga Perawat yang benar-benar berkualitas dan berpengalaman.(Sumber:Dailymail / Editor : AntonWijaya)

Popular Posts